KEBAKTIAN GEREJA ESTMIHI RABU ABU ,Rabu, 14 FEBRUARI 2024

 

Sampai saat ini Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) masih belum menjalankan atau merayakan kebaktian Rabu Abu. Walaupun dalam Tata Laksana GKPS, sudah diperkenalkan berbagai jenis kebaktian yang dirayakan oleh GKPS, termasuk di dalamnya kebaktian Rabu Abu.[1] Tentu hal ini sedikit berbeda dengan apa yang telah diajarkan GKPS sebelumnya. Hanya saja, sekali lagi, GKPS memang masih belum pernah menjalankan model kebaktian ini. Namun dari rangkaian perayaan prapaskah, hal yang unik yang telah dilakukan GKPS sampai saat ini adalah ketika rangkaian perayaan Minggu prapaskah justru dimulai dengan melaksanakan kebaktian Kamis Putih (seperti yang selama ini telah dilakukan secara bersama-sama). Tentu saja secara pemahaman hari raya tahun gerejawi, hal ini patut mendapat perhatian dan diskusi bersama. Sebab tidak akan mungkin dilakukan kebaktian Kamis Putih (juga Jumat Agung dan Minggu Paskah), tanpa terlebih dahulu dimulai dengan kebaktian Rabu Abu. Bahwa pada dasarnya kebaktian Rabu Abu adalah bagian dari tahun gerejawi (khususnya masa prapaskah).

Adapun Rabu Abu (Ash Wednesday) dipahami sebagai perayaan untuk dimulaikannya rangkaian masa-masa Paskah gerejawi. Hari Rabu menjadi hari pertama pembukaan dari masa-masa prapaskah. Pada saat Rabu Abu dirayakan, hal yang menjadi penekanan terhadap umat sehubungan dengan memakaikan waktu ini adalah untuk masa mengalami pertobatan, perkabungan, introspeksi diri, pendekatan diri secara pribadi kepada Tuhan dan (sebagian umat melakukan) berpuasa. Kata “Rabu” mengidentikkan nama hari dan kata “abu’’ yang menekankan tentang sesuatu yang sudah tidak berguna. Secara umum dalam tradisi Israel, “abu” melambangkan sesuatu yang sifatnya fana dan manusiawi (bnd. Kej. 3:19; 18:27). Kondisi hidup manusia yang pada dasarnya adalah fana, telah menganjurkan agar hidup manusia tersebut bersedia untuk bertobat serta menyesali diri atas dosa-dosa yang telah diperbuat (bnd. 2 Sam. 13:19; Ayb. 2:12; Yes. 58:5-7; Mrk. 1:15). Ini menjadi bagian penting dari kebaktian Rabu Abu, yang selama ini telah diselenggarakan oleh gereja dengan berbagai latar belakang denominasi yang berbeda-beda.



[1] Bandingkan Kantor Sinode GKPS, Tata Gereja GKPS, (Pematangsiantar: Kolportase GKPS, 2021), 36, 38. 


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.